Para pasangan Cagub saat ini mengucapkan syukur sudah dapat kendaraan partai yang mengusung. Boleh dibilang untuk bisa menjadi calon melalui kompetisi sangat ketat dan biaya yang lumayan besar. Bagaimana tidak spanduk spanduk dan pembentukan team sukses ini sudah mengeluarkan kocek tersendiri bagi calon yang berniat maju dalam pilgub. Namun pasangan pasangan yang telah ditetapkan tentu akan membuat perhelatan entah kecil atau besar dan merasa bersyukur menjadi putra pilihan yang terbaik tentu juga mohon doa restu kepada sesepuh, pinisepuh dan handaitaulan agar pencalonannya nanti mendapatkan berkah dan harapan terakhir bisa memenangkan pertandingan dalam pemungutan suara. Sekarang bagaimana mengatur starategi bagi pemenangan sang calon. Jargon jargon dan janji janji seperti pendidikan gratis, pemberdayaan UKM, pengentasan pengangguran dan seterusnya tentu akan menghiasi pamflet pamflet, baliho baliho di sudut sudut kota se Jateng. Hal ini sudah menjadi tradisi dan di beberapa daerah yang menyelenggarakan pilkada akan menerapkan hal serupa. Barangkali ini diperlukan inovasi dalam mengkomunikasikan kepada masyarakat, apa saja yang akan diperbuat bagi calon yang berkompetisi ini. Sehingga perlu terus menerus mensosialisasikan program program yang dapat dijangkau dan masyarakat akan memahami. Di sisi lain seperti kekuatan diluar manusia juga bermain seperti mandatangi suhu atau orang yang dianggap tua untuk mendapatkan dukungan agar terpilih. Percaya tidak percanya ini pasti akan dilakukan oleh para pasangan calon. Dalam berkampanye nanti harus bisa menjawab tantangan yang menjadi persoalan sekarang seperti potensi wisata yang perlu dikembangkan. Mendorong potensi daerah agar lebih berdaya saing. Hal hal seperti inilah masih terlewatkan dan lolos dari pandangan para calon.