Mesin mesin politik di Jateng sudah mulai memanas. Sudah lama wacana penggantian pasangan bergulir. Namun kebenaran ini sukar ditemukan sumbernya dan selalu menghindar bila dikonfirmasikan. Seperti halnya pada partai Demokrat wacana penggantian pasangan calon sudah muncul sejak ditetapkannya pasangan Sukawi-Sudharto kepada figure lain yang lebih bersih dan tidak dalam masalah. Hal ini juga terjadi pada PKB yang telah menetapkan Agus Suyitno-Kholiq untuk dirubah lagi.

Terjadinya wacana penggantian ini adalah tidak bisa terlepas pada kepentingan pihak pihak yang berkepentingan dalam pilkada. Disatu sisi sudah ada calon yang melesat jauh melakukan pendekatan pada masyarakat di lain sisi masih berkutat soal pencalonan. Beginilah politik tidak ada kejujuran yang permanent dan setiap saat berubah. Tapi yang perlu diingat adalah keutuhan dalam berbangsa dan bernegara.tetap terjaga. Munculnya pemberitaan Ali Mufiz yang akan dijagokan lagi oleh PKB nampaknya hanya wacana wartawan saja di Koran. Menjadi calon dengan kendaraan partai sudah mahal bayar tiketnya apa mau calon yang sudah ditetapkan digantikan begitu saja. Kecuali ongkos ongkos yang sudah keluar diganti dua kali lipatnya bagi yang menggantikannya. Politik di Indonesia masih menganut yang berani bayar mahal menjadi urutan nomor satu seperti halnya dalam daftar urutan caleg. Urutan teratas adalah yang berani bayar lebih tinggi.