Pada tradisi adat Jawa bila menjelang adanya suatu gawe seperti pemilihan kepala desa atau kepala daerah tidak meninggalkan tradisi kepercayaan nenek moyang. Dari pengalaman berbagai pilkada yang telah dilangsungkan. Para calon kandidat yang akan bertarung pasti sowan atau mengunjungi orang orang yang dianggap mempunyai kemampuan lebih untuk mohon doa restu dan bahkan ada yang sampai nglakoni yaitu menjalankan ritual ritual agar sukses dikemudian hari atas pencalonannya. Ada hal yang menarik lagi adalah digunakannya kesempatan oleh orang orang yang mengaku pintar dan menyampaikan kalau mempunyai ajian atau gaman yang hanya bisa ikut oleh si calon. Bahkan ada juga yang menitipkan begitu saja pusakanya selanjutnya pusaka bisa ditebus bila kelak terpilih menjadi pengusasa.

            Disamping itu arena gambling juga ikut bermain. Taruhan bagi siapa yang akan menang nantinya menjadi ajang siapa yang menjadi pemasang tertinggi dengan angka ratusan hingga jutaan rupiah. Itulah pilkada yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk iseng bermain taruhan.

Terpilihnya seorang pemimpin nanti tidak terlepas dari cukong cukong dari ibu kota yang akan turut andil mendanai persiapan sampai masa kampanye berlangsung. Calo calo atau perantara dari Jakarta tentu akan turun ke daerah daerah untuk memberikan penawaran jasa pinjaman dana guna keperluan pilkada ini. Sepertinya hal ini mustahil tetapi dalam kenyataan dilapangan memang demikian adanya. Tawaran dengan nilai rupiah tertentu dengan jaminan asset asset yang dimiliki oleh si calon untuk memudahkan mendapatkan pinjaman dan tentu kesediaan ini akan ditandatangani di hadapan pejabat yang berwenang seperti Notaris.

            Begitulah gambaran sekilas pilkada disamping gebyar kampanye dan penyampaian visi misi. Ada dapur lain yang tidak pernah tercium oleh media. Kalaupun mendengar hanya untuk konsumsi kalangan sendiri saja. Ada lagi suatu hal antar sesama calon melakukan deal deal tertentu dan hanya sebagai penyeimbang saja. Ini bisa juga kemungkinan terjadi. Hal hal seperti diatas sudah menjadi kewajaran dan tradisi dalam kancah pemilihan kepala daerah yang pemilihannya langsung dipilih rakyatnya. Berbeda dengan sitem dahulu yang berhak mengajukan dan yang memilih dari kalangan anggota dewan sehingga yang mendapatkan penghasilan adalah intern anggota. Kalau pemilihan langsung rakyat bisa ikut menikmati juga. Kekuasaan harus diperebutkan dan perlu kecerdasan dan kecermatan membaca situasi untuk menuju singgasana.