Bursa cagub yang mendaftar melalui PDIP tentu akan bersaing untuk mendapatkan tiket menuju bursa cagub Jateng mendatang. Sudah menjadi hal yang biasa bilamana calon yang melamar tentu disodori kontrak politik terhadap partai yang akan mengusungnya. Sudah menjadi tradisi dan terbukti calon incumbent pada pilkada pilkada daerah lain mempunyai kans untuk meraih suara terbanyak. Namun hal ini tidak berlaku terhadap Ali Mufiz yang merupakan incumbent yang meneruskan kepemimpinan Mardiyanto sebelumnya. Mengapa hal ini bisa terjadi padahal untuk membeli tiket cagub dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar banyak yang merebutkannya. Bahkan berani membayar berapapun ongkos yang akan diminta oleh partai. PDIP tentu sudah mempertimbangkan hal ini. Kegagalan dari Ali Mufiz karena tidak bersedia membesarkan partai dan tidak bersedia dibuatkan KTA (Kartu Tanda Anggota) PDIP pada saat diundang DPP. Pak Ali Mufiz hanya bersedia membesarkan Jawa Tengah saja. Sehingga alasan tersebut pilihannya jatuh kepada Bibit Waluyo yang juga sudah terdaftar pada daftar tunggu setelah pilkada DKI beberapa waktu lalu. Ada perbedaan visi sepertinya. Pak Ali Mufiz cenderung mengambil posisi di tengah tengah dan mengutamakan kemakmuran masyarakat Jawa Tengah, tentunya melihat kondisi di lapangan saat menjabat wakil gubernur maupun sebagai gubernur pada saat ini. Itulah permainan dalam politik. Kita tunggu pertarungan kandidat kandidat yang saat ini sudah mendaftar di KPU.