Sebelum pilkada gubernur Jateng digelar kami pernah mengikuti diskusi bagi calon yang akan dijagokan dari partai Golkar. Dalam diskusi tersebut diusulkan bahwa calon yang diusung jangan dari pucuk pimpinan partai tersebut. Partai hanya memberikan batasan batasan yang telah digariskan partai. Namun usulan ini dibantah dari salah satu kader tersebut bahwa di Indonesia dan sudah menjadi tradisi pimpinan partailah yang berhak maju dalam pilkada ataupun dalam pilpres. Kembali ke pilgub Jateng kekalahan Bambang dalam diskusi wong cilik dalam warung wedang jahe. Disitu ada yang berprofesi sopir, kernet, tukang becak dan bapak bapak yang sedang menikmati hangatnya wedang jahe ini mengatakan bahwa :

Dalam memilih pasangan wakil kurang memperhatikan kedekatan pada masyarakat.

  1. Wakil yang diusung dari wilayah yang sama yaitu dari Semarang dan dari Kecamatan yang sama pula.
  2. Dalam mengemas kampanye yang menolak kenaikan harga BBM, kurang pas karena pucuk pimpinan partai Golkar di Jakarta mendukung kenaikan BBM.
  3. Dukungan dari media surat kabar Suara Merdeka nampak sekali namun mengesankan unjuk kekuatan dukungan dari para penggede saja.

Demikian sekilas diskusi atau obrolan semalam tentang hasil sementara pilgub Jateng oleh orang orang pinggiran yang menyoroti kekalahan pasangan Bambang-Adnan.