Sistem pemilu 2009 yang mensyaratkan suara terbanyak menjadikan para caleg berpikir mengatur strategi agar memperoleh suara terbanyak. Bagi caleg yang berkantong tebal dapat menggunakan jasa EO untuk memasarkan pencalegannya. Berbeda dari caleg yang berkantong pas pasan. Spanduk dan baliho plus pajak iklan tak masalah bagi yang punya duit banyak. Bagi yang pas pasan tentu tidak melakukan hal yang sama, tentu membuat strategi lain misal membagikan sampo atau korek api yang telah disablon dengan foto dan gambar partai berasal juga kalender kalender. Kalau yang terakhir ini biasanya dapat semprit dari Panwaslu.

Berbagai cara menarik simpati dilakukan para caleg mulai dari pembagian sembako sampai membantu pembangunan prasarana masyarakat seperti jalan, mushola inilah yang mendapat dukungan nyata. Ini sudah terbukti pada pilkada pilkada. Partai mana dan caleg dari mana masyarakat tidak peduli, yang penting siapa yang bisa berbuat sesuatu dalam pembangunan fisik wilayahnya suara akan total diberikan padanya.

Semua caleg menginginkan suara terbanyak dan dapat menduduki kursi Dewan. Namun terbatas dengan kouta dan jumlah pemilih yang berhak mencontreng. Inilah yang dapat menjadikan pertimbangan para caleg. Bertempur di medan mana dan medan tersebut harus dikuasai kalau menginginkan orang memilihnya. Sosialisasi secara all out sampai H -1 selalu dikawal dengan ketat. Untuk itu para caleg harus menjaga stamina dan menggunakan kekuatan doa untuk berserah diri kepada Tuhan. Apapun hasilnya dalam pesta demokrasi dapat menerima dengan ikhlas.