Apapun yang dibangun oleh Parpol dalam berkoalisi tentu mengamankan kepentingan masing masing Parpol. Kita coba dengar harapan masyarakat jelang pilpres. Ternyata masyarakat menghendaki adanya pemimpin yang tegas dan dari kalangan militer. Saat ini SBY masih menduduki nominasi dan ada peluang menang lagi pada pilpres mendatang. Namun SBY tidak mau berpasangan lagi dengan JK. Pembicaraan yang berkembang bahwa keberhasilan SBY tidak lepas dari peran Golkar selama ini dalam mejalankan pemerintahan bersama Demokrat.

Demokrat akan hitung hitung dan harus cermat bila cerai dengan Golkar. Kondisi nyata bahwa Golkar berpengalaman dalam menjalankan pemerintahan terbukti dalam sidang sidang di DPRD. Di sini kelihaian kader golkar dalam mengatur skenario terbukti tangguh sehingga kader partai lain secara tak sadar mengikuti irama yang dilakukan oleh kader golkar.

Siapa yang maju dalam pertarungan Pilpres tidak masalah bagi rakyat. Yang kita tunggu adalah keberanian pimpinan Parpol tidak mencalonkan diri menjadi Capres. Nampaknya nama Prabowo dapat mengimbangi ketenaran SBY. Prabowo dapat tenar karena peristiwa HAM pada waktu lalu. Sehingga dari sisi marketing sudah cukup dikenal di masyarakat. Walaupun ada sebagian pendapat Prabowo ada cacat pada masa orde baru namun ini tak menjadikan masalah. Masyarakat sudah tahu yang penting adalah bangsa kita mampu menjaga harga diri terhadap bangsa bangsa lain serta mampu mengolah hasil alam sendiri.

Kompetisi akan lebih menarik dalam Pilpres mendatang. Sehingga terjadi tarik ulur antar parpol dalam menjalin koalisi. Terserah para elit politik melakukan manuver manuver. Hal ini tidak akan terpengaruh dalam proses jalannya Pilpres mendatang. Rakyat akan memilih sebagai mana mestinya sesuai dengan mekanisme demokrasi. Selamat berotak atik pasangan Capres dan Cawapres.