Nampaknya baru pertama kalinya di dunia ada Presiden dan Wakil nya bersaing dalam merebutkan kursi Presiden pada pemilu secara langsung. Sebelumnya SBY-JK bisa dikatakan dwi tunggal dari semboyannya “Bersama Kita Bisa”, namun pada tahun 2007 Presiden gerah atas sepak terjang wakilnya sehingga presiden menetapkan aturan dan tata laksana tugas presiden. Perseteruan terus berlanjut hingga masa jabatan berakhir dan mendeklarasikan maju menjadi Capres sendiri. Yang unik dari JK adalah wapres yang dipilih adalah yang dulunya dituduh sebagai penumpang gelap di tubuh Golkar tak lain adalah pak Wiranto. Masyarakat sudah disuguhi tontonan dari peran elit politik.

Kalau disimak sebenarnya pasangan SBY-JK ini adalah pasangan yang pas dan bisa saling melengkapi dalam menjalankan roda pemerintahan. JK sebagai wakil merupakan pekerja keras dan dapat dibuktikan dengan kemajuan kemajuan yang diperoleh mulai dari kasus Aceh, Poso, konversi minyak tanah ke Gas dan masih banyak lagi. JK yang suka mengambil langkah cepat dan strategis dan tidak terlalu birokratif telah diterapkan. Demikian halnya dengan SBY yang gagah dan karismatik dengan kehati hatian dalam ambil keputusan. Akan tetapi di penghujung masa jabatannya keduanya saling sindir dan dengan terang terangan bersaing dalam Pilpres mendatang. Inilah yang terjadi dan mungkin ini pertama kalinya di Indonesia bahkan di dunia.

Kelebihan SBY bila maju lagi sebagai Capres kans memenangkan cukup besar dengan incumbent nya serta pengalaman kemenangan tahun 2004 pemilihan secara langsung. Sedang JK yang mempunyai jargon lebih cepat lebih baik diawali dari koalisi partai, deklarasi pasangan sampai mendaftar ke KPU adalah pasangan yang lebih cepat. Kita tunggu hasilnya apakah jargon ini relefan dengan hasilnya.