Pada pilpres saat ini di Jateng banyak suara yang mengambang. Berbeda dengan provinsi lain. Kalau di provinsi lain sudah kelihatan jelas peta dukungan mengarah kepada siapa figurnya. Akan tetapi di Jawa Tengah ini unik, banyak yang santai santai saja dan tidak memihak kemanapun. Disamping karena faktor budaya juga karena pemain yang maju itu itu saja tidak ada hal yang baru. Semuanya serba normatif belum ada calon yang membuat impian bila saya jadi harus begini begitu untuk kemajuan bangsa dan negara. Semua masih mengatasnamakan rakyat. Keinginan memperbaiki bangsa dan negara belum kelihatan. Situasi adem ayem di Jateng ini menjdadikan rebutan capres untuk masuk menggarap Jateng.

Wong Jateng pingin punya presiden yang bisa menjadi inspirator dan motivator. Inilah harapan dan idealnya yang dimaksudkan. Untuk itu dalam beberapa kali putaran kampanye ketiga capres ini serius menggarap Jateng untuk mendulang suara yang banyak. Wong Jateng berpedoman pada sejarah raja raja terdahulu yang berkuasa di Indonesia. Hampir pasti semua kekuasaan raja jatuh bukan karena serangan dari luar akan tetapi jatuh karena dari dalam sendiri. Sebagai contoh saja Soekarno jatuh karena dikhianati oleh Soeharto. Selanjutnya Gus Dur dikhianati oleh Mega, lalu Mega dikhianati oleh SBY. Bila JK nanti jadi presiden berarti JK telah menghianati SBY. Inilah kepercayaan masyarakat jawa yang belajar dari sejarah dan kental dengan supranatural.