Hari menjelang magrib pada tanggal 8 Juli 2009 kami didatangi dua orang petugas dari kantor Kelurahan di desa kami. Alhasil adalah minta tolong mengangkut kotak suara dari kantor Kelurahan menuju ke Kantor Kecamatan untuk mengepool kotak suara hasil pilpres yang baru saja berlangsung. Disitu sudah dijaga puluhan petugas kepolisian untuk mengamankan kotak suara tersebut. Dengan mobil pickup kami sampai di Kelurahan, dan yang melakukan angkat junjung keatas kendaraan adalah semua dari personil dari kepolisian. Rupanya petugas kepolisian sudah capai dan segera ingin bertemu dengan keluarganya di rumah. Sambil menunggu semua kotak suara masuk diatas kendaraan, saya sempatkan tanya hasil rekapitulasi hasil di Kelurahan kami. Petugas Kelurahan memberikan informasi hasil rekap dipasang di pintu depan kantor kelurahan. Ternyata hasil perolehan SBY-Boediono 62% disusul Mega-Pro 31% dan JK-Win 7%. Itulah hasil di Kelurahan kami. Ternyata hasil itu sama dengan yang dilakukan oleh hitungan cepat yang ditayangkan di TV pada sore hari. Wah baru percaya nih sama hitungan cepat, lha di desa kami saja sampai 60% tentu tingkat nasional sesuai hitungan cepat kurang lebihnya sama.

Dengan hasil tesebut tentu ada yang tidak puas, mengingat seperti pasangan JK-Win yang menjelang detik detik akhir kampanye mengeluarkan semua jurusnya dibandingkan dengan hasil perolehan suara tidak signifikan. Hasil semua itu pilihan rakyat. SBY masih dhiarapkan untuk memimpin 5 tahun mendatang. Sikap gentle JK yang mengucapkan selamat atas kemenangan SBY ini patut mendapatkan apresiasi tersendiri. Seharusnya bersikap demikian. Walau berkompetisi dengan sengit tetap menghargai aturan main dan etika berkompetisi.

Kita bangsa Indonesia telah disuguhi pesta demokrasi yang cukup transparan. Hanya saja KPU sebagai penyelenggara dinilai kurang optimal yang mengakibatkan kinerjanya selama ini menjadi sorotan banyak pihak. Kemenangan SBY adalah kemenangan rakyat Indonesia. Selamat untuk pak SBY dan pak Boediono, ojo lali pengembangan UMKM nya lho.