Tadi malam kami mendengarkan diskusi dari radio Elshinta yang mengangkat tema perihal penahanan pimpinan KPK. Hampir sebagian besar menyalahkan Polri dan pandangan usulan seharusnya kerjasama dengan KPK dalam hal pemberantasan korupsi mewarnai diskusi tersebut. Sebagai warganegara adanya polemik tersebut kami teringat ketika mengikuti seleksi salah satu divisi di KPK. Ketika mengikuti seleksi tertulis, ternyata para peserta adalah dari berbagai kalangan instansi yang masih aktif, seperti dari Departemen keuangan, Polri, BPK dan masih banyak lagi. Melihat hal ini kami pada waktu itu berpikir tidak mungkin bisa lolos mengingat para saingan adalah orang orang Top di bidangnya masing masing. Namun sepulang mengikuti seleksi dalam perjalanan kami bayangkan sulit KPK akan eksis pada tahun tahun mendatang perihal pemberantasan korupsi. Lha wong kalau mengoptimalkan perangkat yang sudah ada tanpa KPK pun kalau kejujuran dan bela demi negara pasti sudah berjalan sebagai mana perundangan yang telah dibentuk.

Kembali soal perseteruan Polri dan KPK, orang awam saja sudah tahu. Sebenarnya dalam suatu menjalankan tugas mesti ada komandannya dan komandan tersebut pasti ada yang menyuruhnya. Dalam hal ini pun Polri  melakukan atas petunjuk atasannya. disana kan banyak orang pinter pinter. Mencuatnya perseteruan ini menandakan salah satu peristiwa yang memang harus muncul akibat para pemimpin kita sudah menjual nama rakyat demi kepentingannya. Berbagai intrik dan perilaku merebutkan kue kekuasaan telah dipertontonkan elit politik kita. Sekarang masyarakat cuek dan hidup sendiri sendiri demi mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sehingga nanti siapa yang menanam itulah yang memetiknya. “Becik ketitik olo ketoro“. Alam akan marah, berbagai bencana akan menghadang kita karena semua ini kerusakan sudah mendunia.