Pilwakot Semarang yang berlangsung 18 April 2010 lalu akhirnya dimenangkan pasangan Soemarmo – Hendi Hendarpriyadi (Marhen), menang tipis atas pasangan Mahfudz Ali – Anis Nugroho (Manis). Ini cocok dari survey yang kami lakukan secara mandiri dengan metode sampling dan wawancara masyarakat pegawai swasta, bakul blanjan, bakul jajanan, tukang kemasan dipasar. Hitungan sementara yang dikeluarkan KPU Kota Semarang pasangan Manis memperoleh 31% dan pasangan Marhen 34% pada petang hari menunjukkan kemenangan tipis telah terbukti. Padahal kami sempat ragu atas publikasi media local semarang dari hasil LSI sebelum pencoblosan pasangan Manis diprediksi menang lebih dari 50% suara.

Menyimak pasangan Manis ini dari hasil deklarasi saja sudah menunjukkan kurang solidnya partai pengusung. Apalagi keyakinan menang yang berlebihan dari pasangan ini serta kepercayaan diri yang kuat tidak dapat mendongkrak popularitas. Kesalahan pasangan Manis adalah pada saat debat public menyerang Soemarmo mengenai perselingkuhan yang dialamatkan padanya. Ini yang menjadikan timbul efek tidak simpati sebagian masyarakat. Lebih elegan kalau tidak menyinggung masalah pribadi seperti kurang kerjaan saja demikian ungkap pemirsa. Yang berikutnya luput dari perhatian Manis adalah ketidak tahuan team suksesnya atau bagaimana mengenai yang beredar di masyarakat bahwa pasangan Manis ini diusung untuk menyelamatkan walikota sebelumnya. Serta kalau pilih Manis sama saja seperti walikota sebelumnya yang suka memberi tarip pada semua kegiatan. Program sekolah gratis, pemberian intensif bagi RT menjadi tenggelam. Disamping itu arogansi walikota sebelumnya mencopot Sekda yang sekarang jadi rivalnya juga tidak diperhitungkan oleh team sukses Manis.

Lain lagi dengan Marhen, pasangan ini solid didukung oleh ranting ranting partai pengusungnya. Tidak hanya itu juga bahkan pemberian gizi pun diberikan sampai ke akar rumput. Tehnik merekut masa pun sebenarnya meniru walikota pendahulunya seperti pada kampanye nya dilakukan jalan sehat nampaknya lebih efektif bagi pasangan Marhen ini. Yang menjadi ilmu Titen adalah siapa yang terkesan teraniaya dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Sudah dipastikan bagi PNS yang kemaren tidak mendukung Marhen tentu ada efeknya dan ini merupakan resiko dari dukung mendukung. Bagi ibu Harini dan Pak Farchan siap siap tidak mendapatkan posisi empuk seperti saat ini yang dijabat atau mungkin dirangkulnya diajak dalam pemerintahannya lima tahun mendatang.

Begitulah catatan dari perhelatan menuju Semarang satu. Semoga ini dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang akan melamar menjadi walikota Semarang atau dimana saja. Tidak hanya mengandalkan uang semata namun juga diperhatikan issue yang berkembang di masyarakat dan dipersiapkan strategi penangkalnya.