Orang Jogja marah, demikian ucapan yang pantas terhadap pernyataan pemerintah. Tidak hanya orang Jogja kita saja yang diluar Jogja juga berkomentar ngapain pemerintah bikin ulah bikin pernyataan yang seharusnya tidak disampaikan. Salah sendiri bila sekarang terjadi pergolakan batin maupun aksi demo. Bahkan pernyataan Mendagri bahwa yang demo itu tidak mewakili rakyat Jogja dan hanya sekitar 1000 orang saja yang demo. Ini akan semakin memperburuk citra pemerintah sendiri. Dan memang pemerintah tidak urus mengenai citra. Jangan memaksakan kehendak, ini kesannya memaksakan kehendak dari pernyataan pernyataan wakil pemerintah yang ngomong di media. Pemerintah sebaiknya dalam kekuasaan jilid kedua ini bisa meletakkan dasar dasar memberantas kemiskinan. Yang dihadapi oleh bangsa ini adalah jurang antara miskin dan kaya nampak sekali akibat liberalisme dan konsumerisme. Lebih bijak dan akan dikenang bila pemerintahan sekarang dapat membekali rakyatnya supaya pintar dan pandai mencari rejeki. Sekarang semua pihak harus berpikir dingin jangan bikin pernyataan yang membuat hati rakyatnya tersinggung. Kita sudah dikenal bangsa yang suka tawur, tidak disiplin dan masih banyak cap lain yang buruk. Tapi kita harus tetap bangga sebagai bangsa Indonesia mulai dari diri kita sendiri. Biar pejabat yang memperkaya diri nanti menanggung akibatnya di hadapan Allah.