Vonis hakim terhadap hukuman Gayus selama 7 Tahun menjadikan berita yang paling hot diawal tahun 2011 ini. Dari peristiwa ini banyak hal yang belum terungkap. Reaksi dari berbagai kalangan cukup beragam, itulah kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sejak dijemputnya Gayus oleh Satgas mafia hukum sudah menjadi pertanyaan, otomatis ada anggapan semacam tawar menawar. Sekarang Gayus mulai mengungkap skenario dirinya bersama Satgas. Reaksi satgas begitu Gayus menyampaikan conference pers merupakan hal yang lumrah. Semua itu sebenarnya sudah dapat dibaca oleh banyak orang dengan kacamata keilmuannya masing masing. Inilah yang sedang dipertontonkan kepada khalayak oleh bagian yang terlibat dalam pemerintahan. Sehingga muncul seperti sebagian tokoh yang mengatasnamakan agama dengan tema kebohongan oleh pemerintah. Disisi pemerintah lha wong sudah bekerja sedemikian rupa masih dipaido. Inilah kehidupan manusia di dunia yang namanya kepuasan tolok ukurnya berbeda beda. Kalau seperti ini terus kapan kita mau mulai memperbaiki diri atau mungkin inilah yang orang menyebutnya carut marut kondisi negara. Lalu siapa yang memulai menata kalau sebentar sebentar hanya berselisih persepsi. Dari kasus Gayus yang menyeret Deni dapat menjadikan pembelajaran kita semua bahwa suatu peristiwa itu ada yang memulai dan mengatur serta tujuan yang berbeda beda. Tujuan awal satgas adalah menguak praktek mafia hukum malah terbalik berkutat pada masalah Gayus saja. Banyak khayalak terjebak untuk menanggapi vonis Gayus bukannya mendorong dilakukan perbaikan sistem tetapi lebih mengarah kepentingan sesaat saja.