Ramainya beberapa pihak yang berkehendak untuk meresafel kabinet sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Presiden tidak usah di dekte dari kehendak shahwat politik sebagian orang. Apakah dengan merombak kabinet bisa langsung jadi baik tentu tidak. Walaupun desakan dari internal partainya, pak presiden tidak perlu melaksanakannya. Pak SBY tidak usah kuatir akan kehilangan power atau dikatakan hilang momentumnya. Atau bahkan dikatakan tidak berwibawa lagi. Ini kerjaan para pengamat yang memang tugasnya ngomong saja. Sah sah saja, namun bila mereka diberi kesempatan belum tentu bisa membenahi apa yang sedang ia pikirkan. Memang para pejabat kita sekarang kebanyakan ngomongnya menyakiti rakyat, seperti pak Marzuki Ali dalam mengomentari korban Mentawai beberapa waktu lalu. Hingga pernyataan menteri ESDM yang menganggap tidak malu bagi orang kaya yang mobilnya memakai premium atau yang bersubsidi. Berarti premium diperuntukkan bagi kaum miskin saja. Karena perbedaan istilah ini sajalah mendapatkan tanggapan yang beragam. Sekarang harus hati hati bila mau mengeluarkan sikap atau pernyataan. Masalah sederhana yang di inginkan rakyat adalah rasa aman, bisa kenyang dan sehat, serta bisa pinter. Rasa aman saja sekarang tidak menjamin. Dulu orang tua kalau menasehati anaknya kalau keluar rumah ” hati hati ya nak jangan ngebut nanti jatuh” namun sekarang beda. Pesan orang tua menjadi ” hati hati ya nak kalau parkir motornya nanti kalau hilang”.