Para elite partai Gerindra yang duduk di DPR tidak mendukung hak angket pajak waktu lalu merupakan langkah yang meleset. Padahal sebagian besar rakyat ingin kasus mafia pajak dapat dibongkar. Secara otomatis langkah Gerindra ini disambut oleh Demokrat yang menentangnya. Alhasil keputusan Gerindra tersebut mendapatkan sambutan dan ditawari masuk dalam kekuasaan. Akan tetapi manuver manuver politik yang tergabung dalam setgab tentu tidak akan membiarkan hal ini. Persyaratan yang diajukan Gerindra bila masuk dalam kabinet perihal ekonomi kerakyatan sudah tidak menarik lagi bagi parpol koalisi. Sehingga pada saat yang ditunggu tunggu perihal resafel kabinet nihil lah hasilnya. Presiden akhirnya masih menetapkan berjalan sesuai team yang telah dibentuknya. Dengan pertimbangan nanti akan mengganggu jalannya pekerjaan saja. Apa yang dilakukan Gerindra pada waktu angket pajak merupakan langkah coba coba yang riskan dan telah terbaca haus ingin cepat masuk dalam kekuasaan. Ternyata terbukti walau pada saat itu bisa dikatakan merupakan investasi untuk pilpres mendatang. Langkah tersebut bisa dikatakan tergesa gesa karena harapan kedepan Demokrat akan mendukung capres Gerindra tidak semudah itu. Situasi perpolitikan kita sudah dapat dibaca dan tradisi serta budaya para elite masih mewarisi para pendahulu pendahulunya. Apalagi pernyataan Permadi yang dulu dari PDIP masuk Gerindra mengatakan bahaya bila Gerindra masuk kabinet merupakan langkah untuk menenangkan diri saja.