Pemilukada Kabupaten Pati yang digelar 24 Juli 2011 lalu yang di ikuti enam pasangan telah berlangsung dengan aman walau ada sedikit insiden di daerah Sukolilo. Pasangan Haryanto-Budiyono untuk sementara unggul melalui hasil hitungan cepat dan disusul pasangan Sunarwi-Tejo Pramono di urutan kedua. Yang menjadikan hal luar biasa adalah cara kerja tim sukses Haryanto yang mengandalkan jaringan pensiunan para PNS yang mempunyai komunitas dibidangnya masing masing. Hal ini yang tidak diketahui oleh para pesaingnya. Walaupun dapat dukungan dari para kiai nampaknya yang banyak berperan justru jejaring pensiunan ini yang aktif melakukan lobi dan melakukan marketing terhadap pasangan nomor urut 5 ini. Sedangkan urutan kedua perolehan suara yaitu Sunarwi-Tejo Pramono lebih didukung karena simpati masyarakat atas kejadian yang menimpa Sunarwi atas dipecatnya oleh DPP PDIP karena dianggap mbalelo di internal partainya. Sunarwi sudah kepalang basah sehingga berjuang habis habisan untuk mendapatkan perolehan suara terbanyak. Namun perjuangan itu masih harus dipertaruhkan bila pilkada kali ini menjadi dua putaran. Karena dari hasil hitungan cepat , umumnya seperti pilkada di daerah daerah lain terpaut sedikit hasilnya dengan hitungan manual yang dilakukan oleh KPU. Yang paling unik dalam pilkada kabupaten Pati ini adalah adanya instruksi DPP PDIP agar seluruh fungsionaris dan kader  yang mempunyai hak pilih agar tidak menggunakan hak suaranya. Instruksi ini adalah respon DPP PDIP atas keputusan KPU Pati yang mengeliminir pasangan Imam Suroso-Sujoko yang mendapatkan restu dari DPP PDIP. Hal ini menjadikan PR bagi Panwaslu untuk melakukan kajian yang serius apakah instruksi ini bentuk pelanggaran hukum pemilu atau tidak.