Bapak satu ini menyita waktu banyak pemirsa se Indonesia untuk mengikuti kisahnya dalam pelarian ke luar negeri yang akhirnya tertangkap di Kolumbia. Sebagai warga negara kami juga mau ikut mengomentari selain para pengamat dan ahli ahli dibidangnya banyak juga pendapat masyarakat yang tidak dapat dituangkan dalam bentuk tulisan. Ketika selama di luar negeri mas Nazaruddin ini banyak mengungkap keterlibatan rekannya di Partai Demokrat yakni Anas Urbaningrum. Pada waktu itu kepergiannya atas petunjuk mas Anas dan sekarang balik menyerang. Ini tentu orang orang yang merasa akan dirugikan nama baiknya tentu akan membela diri mati matian demi memulihkan nama baik apakah itu perorangan atau lembaga. Dari hal ini saja sudah dapat diprediksi bahwa orang yang pernah disebut sebut dan diketahui publik tentu akan bahu membahu bagaimana seorang Nazaruddin harus diberi pelajaran. Dan benar adanya perburuan agar dapat tertangkap dilakukan mati matian berapapun ongkos akan ditempuh. Nazaruddin seorang diri berperang melawan kekuasaan tidak akan mempan dan alih alih akan menjadi bumerang terhadap dirinya. Hal ini sudah terbukti ketika datang dan turun dari pesawat raut wajah sudah seperti orang linglung. Bisa jadi terkaan banyak orang mengatakan selama perjalanan terjadi intrograsi yang menjadikan deal deal tertentu. Hal ini bisa diketahui kecerobohan tim penjemput yang tidak melibatkan pengacara. Bahkan diperparah lagi pada saat membuka barang bukti tidak dihadiri oleh calon tersangkanya. Ini yang mengabaikan ketaatan terhadap hukum yang telah dibuat sendiri. Dari peristiwa peristiwa tersebut pengusutan ini dipastikan tidak akan berakhir dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat banyak. Dengan kata lain kedatangan kembali dari pelariannya sudah selesailah jangan harap publik tahu banyak mengenai hal ini. Tulisan ini disampaikan dan terinspirasi dari pembicaraan warga dalam malam tirakatan 17-an yang esok hari kita peringati hari Kemerdekaan Indonesia. Merdeka.