Tinggal beberapa bulan lagi Pilgub Jateng 2018 masih dirasa kurang greget, entah dikarenakan sosialisasi kurang atau sambutan masyarakat berkurang sat ini. Hal ini dapat diketahui pada saat Sekda Jateng membuka pameran disela sela sambutannya mengingatkan adanya Pilgub. Sekda mengingatkan dan melontarkan pertanyaan kepada para hadirin kapan Pilgub dilaksanakan. Ternyata para hadirin tidak ada yang mengetahui kapan pencoblosannya. Mengetahui hal tersebut Sekda merasa peduli karena menjabat desk pilkada Jateng. Harapannya para warga jangan lupa menggunakan hak pilihnya untuk datang ke TPS. Kualitas Pilkada nanti ukurannya adalah banyaknya partisipasi pemilih. Bilamana partisipasi kurang tentu akan menurun kualitas pilgubnya. Kekhawatiran ini layak disampaikan karena greget masih dirasa kurang atau para kandidat khawatir menyalahi aturan kampanye dan disemprit oleh Panwas.

Iklan

Sudirman Said dapat berpeluang memenangkan pertarungan Pilgub Jateng mendatang. Mengingat pertarungan ini bagaikan permainan ping sut yaitu siapa yang mengeluarkan jari yang tepat akan memenangkan pemilu kada ini. Walaupun dari sisi infrastruktur Ganjar yang menguasai medan saat ini. Pilgub Jateng saat ini kondisinya hampir mirip pilgub sebelumnya yang mana Pak Bibit Waluyo merasa unggul disemua lini, namun akhirnya banyak yang menginginkan pokok e ganti. Menang kalah oleh kedua pasangan ini tentu sudah siap namun yang tidak siap tentu partai pengusung. Saling intai dan saling melakukan survey popularitas menjadi ajang untuk beberapa wilayah basis masa. Tantangan PDIP sendiri yang para kader dan simpatisannya mengusung tagline “Tetep” menjadi ujian dalam pertarungan. Pemilih kaum wanita bisa menjadi kuda hitam karena ada masyarakat yang ketika membuka gambar pokok e ada perempuane yang di coblos. Karena masyarakat yang seperti ini bisa terjadi.

Di media sosial sudah mulai ramai sosialisasi pasangan calon gubernur oleh para pendukungnya. Para tim sukses mulai bekerja masuk melalui cara konvensional maupun internet. Kalau secara konvensional umumnya melalui deklarasi relawan yang diumumkan menjelang masa kampanye. Pernyataan dukungan terhadap pasangan calon gubernur merupakan sikap dukungan agar dapat menarik simpati warga untuk memilih. Sebaliknya sosialisasi melalui media sosial menjadi alternatif karena pengguna internet hampir semua orang mempunya perangkat seluler. Yang menarik dalam sosialisasi banyak menggunakan tag line yang njawani. Salah satu contoh tag line yang telah beredar “mbangun Jateng Mukti Bareng”, ” makane ojo do lali”, “tetep”, tentu akan muncul tag line lain yang njawani untuk merebut simpati wong Jateng yang mempunyai karakter tersendiri. 

Sudah menjadi tradisi dalam pencalonan kepala daerah, para calon mengunjungi pondok pesantran atau para ulama untuk mohon doa restu menjadi ritual wajib untuk memperoleh dukungan sekaligus restu agar dapat memenangi pemilihan. Tidak hanya itu juga para calon umumnya mengadakan silaturahmi kepada pejabat terdahulu yang telah pensiun untuk dimintai restu serta wejangan  sebelum masa kampanye dimulai. Berikut contoh berita kegiatan para calon terkait kunjungan silaturahmi : Bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen Zubair mengunjungi dua poros santri besar di Jawa Timur, yakni Pondok Pesantren Al Falah Ploso dan Ponpes Lirboyo di Kediri. Dalam kunjungan ini pada Rabu (24/1/2018), Ganjar dan Gus Yasin didampingi Al Qaid Santri Gayeng Mukhlisin tiba di Al Falah Ploso, dan disambut langsung sejumlah pengasuh pondok, yakni KH Zainudin Jazuli, KH Nurul Huda Jazuli, dan KH Fuad Jazuli.

Prediksi dari berbagai kalangan Pilgub Jateng 2018 di ikuti dua pasangan calon alias head to head jadi kenyataan setelah KPU Jateng menetapkan adanya dua pasang beberapa waktu lalu. Seperti yang disampaikan Pak Ganjar kalau hanya di ikuti dua pasang saja kurang asyik, namun demikian hasil akhir hingga penutupan pendaftaran yang dibuka KPU Jateng demikian adanya. Dengan adanya dua pasang calon saja sisi positipnya adalah pemilih lebih mudah melakukan pilihannya. Namun menjadi tugas yang tidak ringan bagi penyelenggara pemilu untuk mewujudkan partisipasi masyarakat untuk datang ke TPS nantinya. Ganjar Pranowo sebagai petahana unggul disemua lini untuk kampanye karena warga Jateng telah mengenalnya. Penguasaan IT team Ganjar telah teruji saat pilkada sebelumnya yang mengusung tagline “mboten korupsi mboten ngapusi” gencar di iklan iklan radio saat itu serta pencitraan melalui medsos cukup ampuh pada saat itu. Untuk Sudirman Said juga mempunyai mesin partai yang cukup diperhitungkan yaitu PKS. Dimana kader kader PKS mempunyai cara kampanye yang selama ini tidak dilakukan oleh partai partai lain yaitu face to face mengunjungi setiap rumah dengan ramah tamah seperti petugas surveyor. Ini salah satu strategi yang patut diperhitungkan. Amunisi Sudirman dengan pasangan dari Fatayat NU juga dapat memberi nilai tambah tersendiri. Kampanye fatayat NU dalam mengusung nyai Sahal di pemilu DPD waktu lalu terbukti ampuh mengisi kursi di senayan juga patut diperhitungkan dalam gelaran Pilgub 2018 mendatang.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Tengah  sempat menegur istri petahana Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Siti Atiqoh Supriyanti. Hal itu terkait netralitas Aparat Sipil Negara (ASN) dalam Pilkada. Atiqoh merupakan ASN di Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermasdes) Jawa Tengah. Status Atiqoh cuti dan sudah diajukan sejak sebelum dibuka pendaftaran Pilkada di KPU.
Dia mendampingi suaminya, Ganjar Pranowo saat mendaftar sebagai Calon Gubernur Jateng di KPU Jateng pada tanggal 9 Januari 2018 lalu. Bawaslu kemudian memanggil Atiqoh dan melakukan klarifikasi.

Dipanggil tanggal 11 Januari jam 15.00 WIB,” kata Ketua Bawaslu Jateng, Fajar Subhi. Fajar menjelaskan, dari hasil klarifikasi, Atiqoh sudah mengajukan cuti sejak sebelum pendaftaran dibuka. Meski demikian statusnya masih sebagai ASN.

“Dari keterangan, yang bersangkutan cuti selama setahun,” pungkas Fajar.
Ia menjelaskan, hingga saat ini memang belum ada aturan khusus terkait boleh tidaknya pasangan bakal calon kepala daerah yang berstatus ASN ikut dalam kegiatan yang berkaitan dengan Pilkada. Aturan khusus tersebut memang masih dalam pembahasan. “Karena aturan lama masih berlaku, maka kami memberikan teguran,” terangnya.

Pasangan Calon yang maju dalam Pilkada serentak di Jawa tengah Tahun 2018  :

  1. Provinsi jateng: (1). Ganjar Pranowo-Taj Yasin;

(2). Sudirman Said-Ida Fauziyah.

  1. Banyumas: (1). Mardjoko-Ifan Haryanto;

(2). Achmad Husrn-Sadewo TL.

3.Kab Magelang:(1). Zaenal Arifin,SH-Rohadi P;

                                    (2). Zaenal Arifin, SIP- Edi Cahyana.

4.Temanggung: (1). Bambang Sukarno-Matoha;

(2). Haryo-Irawan P;

(3). Al Khadziq-Ibnu Heri.

5.Kab Tegal: (1). Haron Bagas-Drajat Adi

(2). Enthus Susmono-Umi Azizah;

(3). Rusbandi-Fatchuddin.

6.Kota Tegal:(1). Ghautsun-Muslih;

(2). Dedy Yon S-Muh Junadi;

(3). Herujito-Sugono;

(4). Nur Sholeh-Wartono;

(5). Habib Ali-Tanty Prasetyo.

7. Kab Karanganyar:(1).Juliyatmono-Rober Christanto

  1. Kudus: (1).Akhwan-Hadi Sucipto;

(2).Sri Hartini-Setia BW;

(3). Nor Hartoyo-Junaidi;

(4).Muh Tamzil-Hartopo;

(5). Masan-Noor Yasin.